Senin, 22 November 2010

Pelajaran dari Singapore dan Thailand

Dibandingkan dengan Singapore, Malaysia, dan Thailand, bangsa kita jauh di atas mereka semua, terutama dari aspek sumber kekayaan alam, kekayaan budaya, luas wilayah, dan jumlah penduduk. Namun harus kita akui bangsa kita telah banyak tertinggal dari negara-negara sesama anggota ASEAN terutama dalam mengelola dan memanfaatkan berbagai "kekayaan" yang mereka miliki. Semisal Singapore, negeri yang luasannya amat tidak seberapa dibanding Indonesia ini berhasil tampil dengan keberhasilannya mengelola "ekonomi jasa" mengalahkan Indonesia di beberapa aspek kehidupan.seperti pendidikan dan perdagangan.  Beberapa tahun lalu saat berkunjung ke Universitas Nasional Singapore (UNS) dan Nanyang Institue Technology (NIT) saya mencoba menagkap denyut nadi kehidupan dunia kampus di sana, tidak banyak yang bisa "menyenangkan" saya kecuali perpustakaan yang dikelola secara profesional, sistem renumerasi yang memacu kerja, fasilitas kampus yang serba terawat baik, dan para pekerja yang mengetahui pekerjaannya. Di dua kampus itu budaya keteraturan begitu terlembaga. Makan di kantin kampus harus antri, ingin bertemu dosen harus bikin apointment lebih dahulu. Tetapi ketika di Sociology Department, Nanyang, saya baru merasa "tersentuh" rasa kemanusiaan saya ketika di sela-sela diskusi hangat yang tengah berlangsung antara saya, seorang teman kampus dengan seorang Professor yang juga ketua sociology department itu tiba-tiba berhenti sejenak dan sang Professor menanyakan kepada kami "what do you want to drink?" yang lebih menyentuh lagi ketika beliau sang Professor langsung turun tangan menyiapkan dua gelas teh untuk kami dan langsung menghidangkannya sendiri di depan kami berdua. Sentuhan tindakan kecil sang Professor di Nanyang itu teringat dalam memori saya hingga kini. Tidak banyak agenda yang saya lakukan selain itu, kecuali menemui bung Fedi dan mas Aris. Dari mereka berdua saya mendapatkan informasi berharga seputar penegakkan kerja profesional pada sebuah universitas dan institusi research di Singapore. 

Di negeri Singa itu saya melihat everything is always in order and under control. Ini bukan teori, tetapi kenyataan. Suatu kali saat saya mengikuti shalat Jum'at di sebuah masjid, letaknya di Litle India Street, seorang penghotbah harus "diturunkan" dari mimbar Jum'ahnya oleh sekawanan polisi karena hotbahnya dianggap terlalu keras, dan menyinggung para pedagang keturunan India yang berada disekitar masjid. Ini pengalaman luar biasa, polisi bisa "melengserkan" juru khutbah persih saat sedang memberi khutbah kepada para jamaah yang tengah khusuk mendengarkannya. Seusai shalat ternyata penghutbaah itu langsung "diangkut" ke kantor polisi untuk diinterogasi, atau saya tidak tahu persis selanjutnya. Sisa waktu yang lain saya gunakan untuk berkeliling melihat-lihat warisan kolonial Inggris yang masih terawat baik di sana, seperti hotel, jembatan, patung, dll. Saya juga berkunjung ke "tempat suci" di sana, yakni Orchad Road,...

Saat ingin pergi naik MRT, CCTV saya lihat tersebar hampir dibanyak sudut, sehingga rasa aman terpenuhi, meskipun pada saat yang sama saya terkenang dengan bacaan dari sebuah novel yang pernah saya baca, judulnya Brave New World, ditulis oleh seorang novelis yang juga filsuf, bernama Aldous Huckley. Pertanyaan saya apa ada korelasi antara novel itu dengan negara Singapore. Apa kita akan melangkah mengikuti jejak Singaapore? saya yakin kita Indonesia bukan Singapore, kita ingin kemakmurakan tapi bukan ala Negeri Singa itu. Karena memang bangsa Indonesia punya sejarah dan warisan kultural yang berbeda. Biarkan Singapore memilih jalannya, dan kita pun melangkah mewujudkan impian rakyat Indonesia... Tetapi harus dicatat, Singapore memiliki banyak hal yang masih bisa kita pelajari untuk memajukan banagsa kita

Ketika berada di kota tua Ayuthayya, Thailand saya menyaksikan sesuatu yang berbeda. Memang kedatangan saya beberapa tahun lalu hanya untuk mengikuti seminar tentang Islam di Asia Tenggara. Tetapi di sela-sela seminar yang berlangsung di sebuah hotel yang letaknya persis di pinggir sungai, saya ketika itu sempat mendengar kabar duka, yakni banjir. Konon hutan yang ada di Thailand terus dibabati, sehingga banjir melanda berbagai daerah saat hujan deras turun membasuh bumi.Rakyat Thailand juga tengah berjuaang untuk mengarahkan agar negara mereka menjadi lebih demokratis, Thailand juga menghadapi persoalan serius menyangkut akomodasi kepentingan kelompok minoritas Islam, di wilayah bagian selatan, dan negeri yang tengah menghadapi persoalan krisis kekuasaan. Mereka punya Raja, tapi berbagai faksi kekuasaan juga ingin meraih kue kekuasaannya,... mereka tengah meretas jalan menuju kehidupan politik yang demokratis melalui cara mereka,...

Di negeri Thailand ini saya terpukau dengan kemampuan mereka meningkatkan nilai jual produk industri pertaniannya, misalnya asem dijual dalam kemasan kotak yang cantik dan menarik, demikian juga pisang, durian,... semuanya dikemas, sehingga menarik untuk dikonsumsi. Bagaimana dengan Indonesia,... kita punya semua itu, bahkan lebih banyak lagi tapi kepiawaian kita mengelola, mengolah, mengemas dan menjualnya belum secanggih bangsa Thailand. Lihat durian "montong" tak berbiji yang disenangi banyak kelas menengah atas Indonesia,.. sebenarnya durian itu menurut keyakinan seorang expert dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr. Ir. Endang Yuniastuti (lihat, KR, 22 Nov, 2010) induknya adalah "durian sukun", yang repotnya induknya kini tinggal satu batang di Pendem, yang kini tengah diselamatkan dengan cara pencangkokan. Kita berharap asem-asem daan buah-buahan lokal pun akan segera tampil mengisi pasar dan mall-mall tempat berbelanja dengan kemasan yang lebih menarik dan kualitas terjaga,..

Selama di Thailand saya juga melihat mobil-mobil baru berlalu lalang di jalan-jalan utama yang ada di kota Ayuthayya, saya tidak melihat mobil tua berseliweran sebagaimana saya saksikan di Indonesia, saya juga sempat mengikuti tour yang diselenggarakan panitia untuk melihat masjid yang ada di Ayyuthayya, saya juga mendengar adanya perkampungan orang Sulawesi di sana. Menurut sejarawan, etnik Sulawesi adalah saatu-satunya etnik keturunan yang berani "melawan" superioritas raja Ayuthayya di masa lalu, keberanian etnik Sulawesi Selatan itu hingga kini menjadi bagian dari sejarah yang mengisi pengetahuan sejarawan Thailand,....
Yang menarik saat pergi ke Thailand tentu bandaranya yang bagus,.. Changi Airport